No image available for this title

World trade center



Peristiwa Bom Marriot, Bom Bali I, Bom Bali II dan Bom Kuningan yang pernah mengguncang Indonesia, beberapa waktu lalu. Mengingatkan kita, bahwa trauma dan kengerian peristiwa itu, masih belum bisa kita lupakan. Walau luka fisik bisa disembuhkan, namun “luka batin” atas trauma peristiwa itu, masih sulit dihilangkan dari ingatan bangsa Indonesia, hingga kini.
Begitupula, rakyat Amerika yang tidak dapat melupakan begitu saja, Peristiwa 11 September 2001, dengan skala yang jauh lebih besar. Karena, simbol kebanggaan negeri itu, berupa dua gedung pencakar langit menara kembar (twin tower) World Trade Center (WTC) hancur dibombardir dua buah pesawat penerbangan sipil yang sengaja ditabrakkan ke arahnya. Dunia pun terhenyak, menyaksikan peristiwa kekejaman terbesar yang terjadi di awal abad milenium ini.
Paul Greengrass yang memperoleh penghormatan lewat karyanya, Bloody Sunday, yang diproduksi Paramount Pictures dengan memotret detik-detik paling menegangkan, saat pesawat United 93 ditabrakkan ke arah gedung menara kembar itu. Sebagian besar masyarakat Amerika pun menangis menyaksikannya. Baik, mereka yang memiliki anggota keluarga yang turut menjadi korban. Maupun, mereka yang bersimpati atas duka negeri adikuasa itu.
Dan, memang itulah yang ingin ditampilkan Oliver Stone, selaku sutradara film yang bergenre drama ini. Kita diajak menyaksikan, bagaimana perjuangan dua anggota polisi tangguh yang telah berdedikasi selama 13 tahun ini; Sersan John McLoughlin [Nicolas Cage] dan Will Jimeno [Michael Pena]. Saat, menara kembar WTC diserang, kedua polisi ini berada di tengah ratusan polisi yang bersikap siaga dan mencoba membantu para korban sebisanya. Apa daya, niat mereka ingin membantu ini, punah seketika, di saat mereka terjebak di antara reruntuhan puing-puing gedung yang perlahan-lahan mulai runtuh berantakan itu.
Disinilah, Stone memulai babak terornya. Ia memperlihatkan secara detil bagaimana kedua polisi itu berupaya bertahan hidup, saling menguatkan diri dan saling menjaga satu sama lain. Emosi penonton mampu dipermainkan Stone silih berganti; terharu, tertawa miris, dan tegang. Ketika, keduanya mulai mengalami kehilangan kesadaran.
Suasana dramatis, juga berhasil dibangun Stone dengan menampilkan, secara paralel keadaan Donna [Maria Bello], istri John dan Allison [Maggie Gyllenhaal], istri Will. Keduanya, tentu saja shock melihat serangan tersebut, dan lebih terkejut lagi, ketika tahu bahwa suami mereka terperangkap di sana. Terlebih lagi, Allison yang tengah hamil. Tiada dramatisasi yang berlebihan, tiada isak tangis yang menyayat. Mereka berdua pun saling menangis tertahan, dan justru itulah, yang membuat penonton semakin dekat dengan penggambaran ala Stone. Serasa, kita menyaksikan kejadian sesungguhnya.
Dan, yang paling luar biasa dari karya Stone ini, adalah bahwa, ia sama sekali tak menyinggung siapa yang patut disalahkan atas kejadian tersebut. Ia benar-benar, hanya ingin menyentuh hati penonton lewat perjuangan luar biasa dari dua anggota kepolisian Port Authority Police Department (PAPD) New York itu.

Diperankan oleh :
Nicolas Cage, Maggie Gyllenhaal, Jay Hernandez, Nick Turturro, Armando Riesco


Ketersediaan

Tidak ada salinan data


Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
DVD Movie
Penerbit Paramount Pictures : USA.,
Deskripsi Fisik
1 DVD ( 129 min.)
Bahasa
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
-
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this