<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="38851">
 <titleInfo>
  <title>Sepatu Dahlan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Pabichara, Khrisna</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>Noura Books</publisher>
   <dateIssued>2012</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Printed Material</form>
  <extent>369 p. ; 21 cm.</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Novel Sepatu Dahlan yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Novel inspirasi Dahlan Iskan ini mengisahkan kehidupan Dahlan Iskan saat remaja. Melalui novel ini terungkap bahwa Dahlan Iskan dibesarkan dalam keluarga miskin di desa Kebon Dalem, Magetan, Jawa Tengah  yang harus berjuang guna memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.  Namun sedari kecil kedua orang tuanya selalu menekankan bahwa hidup miskin bukan berarti harus meminta-minta untuk dikasihani melainkan harus dihadapi dengan bekerjadan berusaha.&#13;
&#13;
Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Perih karena rasa lapar tak jarang harus dialaminya, sampai-sampai ia dan adiknya harus melilitkan sarung di perutnya untuk menahan perih lambungnya karena lapar. Meskipun  hidup dalam kekurangan keluarganya tetap mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya. Walau tak memiliki sepatu  Dahlan rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Perih karena lecet pada kakinya yang tak bersepatu tak membuatnya malas bersekolah. Alih-alih malas ia menyimpan dua impian besar di masa kecilnya yaitu memiliki sepatu dan sepeda.&#13;
&#13;
Impian itu terus membayangi kehidupan masa kecil hingga remajanya, ia terus berusaha mengejar impiannya. Walau kehidupannya semakin sulit ditambah kesedihannya ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya mimpinya memiliki sepatu dan sepeda tak pernah hilang hingga akhirnya ketika Dahlan telah berhasil meraih mimpinya itu ia sadar bahwa ada mimpi lain yang harus ia raih, mimpi besar untuk melawan kemiskinan yang mendera keluargaya yang harus diikhiarkannya dengan bekerja kerjas.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Motivation</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Success</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Autobiographies</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Hard work</topic>
 </subject>
 <classification>62 LXB</classification>
 <identifier type="isbn">9786029498240</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan - Sekolah Tinggi Manajemen PPM Pusat Informasi Manajemen</physicalLocation>
  <shelfLocator>62 LXB Pab</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">62 LXB Pab</numerationAndChronology>
    <sublocation>Reference (Reference)</sublocation>
    <shelfLocator>62 LXB Pab</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>38851</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2012-06-29 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-06-23 08:40:10</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>